Asuransi Dalam Perspektif Ekonomi Islam, Prinsip Dasar, Serta Operasionalnya

Asuransi Dalam Perspektif Ekonomi Islam

 

Islam adalah sistem kehidupan (way of life), dimana Islam telah menyediakan berbagai perangkat aturan yang lengkap bagi kehidupan manusia, termasuk dalam bidang ekonomi.[1] Islam memosisikan kegiatan ekonomi sebagai salah satu aspek penting untuk mendapatkan kemuliaan (falah). Kegiatan ekonomi tersebut biasa dikenal dengan sebutan ekonomi Islam. Ekonomi Islam mempelajari bagaimana manusia memenuhi kebutuhan materinya di dunia ini sehingga tercapai kesejahteraan yang akan membawa kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat (falah).[2] Ekonomi Islam dibangun atas dasar agama Islam yang dalam praktiknya harus sesuai dengan syariat agama Islam tentunya.

Terlepas dari konsep kehidupan yang abadi (di akhirat), pada dasarnya manusia ingin hidup bahagia dan sejahtera di dunia. Manusia akan memperoleh kebahagiaan ketika seluruh kebutuhan dan keinginannya terpenuhi, baik dalam aspek material maupun spiritual. Namun, disisi lain manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan maupun keinginannya sendiri tanpa membutuhkan bantuan oranglain. Sehingga dalam Islam, manusia diajarkan untuk saling bekerjasama dan saling tolong-menolong (dalam hal kebaikan). Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, QS. Al- Maidah [5]: 2

 

+++++++++

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

Itulah yang dijadikan sebagai landasan pokok dari sebuah usaha asuransi syariah, yaitu kerja sama dan tolong-menolong. Namun demikian, pernah terbesit pertanyaan di benak masyarakat, khususnya kalangan masyarakat muslim, apakah asuransi itu tidak Islami? Banyak kalangan masyarakat yang berpendapat bahwa asuransi sama dengan mengingkari rahmat Ilahi. Mereka menyamakan asuransi dengan spekulasi. Padahal, implikasi dasar asuransi tidaklah senegatif apa yang tampak pada mulanya. Karena melalui tindakan bersama, individu yang diasuransikan memberi kesempatan untuk meniadakan kemiskinan dan kemelaratan bagi dirinya sendiri maupun tanggungannya. Disamping itu, pada kenyataannya ciri khas asuransi adalah pembayaran dari semua peserta untuk membantu tiap peserta lainnya bila dibutuhkan.[3]

Seperti yang dijelaskan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) dalam fatwanya tentang pedoman umum asuransi syariah, bahwa Asuransi syariah (Ta’min, Takaful, Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.[4]

Dari definisi tersebut, nampak bahwa asuransi syariah bersifat saling melindungi dan tolong-menolong yang disebut dengan ta’awun, yaitu prinsip hidup saling melindungi dan tolong-menolong atas dasar ukhuwah Islamiyah antar sesama anggota peserta asuransi syariah dalam menghadapi malapetaka (resiko). Lain halnya dengan judi yang jelas-jelas dilarang dalam ajaran Islam, sesuai dengan firman Allah SWT, QS. Al-Maidah [5]: 90

+++++++

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberungan.”

Judi dilarang dalam Islam karena dapat meningkatkan perselisihan, dendam, dan melibatkan mereka yang terlibat di dalamnya menjadi lupa kepada Allah. Selain itu, ada salah satu pihak yang akan diuntungkan sedangkan lawan pihak dirugikan. Merugikan orang lain sama saja dengan menzaliminya, maka hal tersebut sangat dilarang dalam Islam.

Singkat kata, jika ditarik dalam konsep ekonomi Islam yang mana segala aktivitas manusia di dunia ini adalah untuk mencapai falah serta menciptakan kemaslahatan umat, maka asuransi syariah dapat dijadikan sebagai jalan untuk mencapainya. Karena prinsip dasar asuransi syariah sejalan dengan prinsip ekonomi syariah, yaitu tolong-menolong dalam memenuhi kebutuhan materinya di dunia sehingga tercapai kesejahteraan yang akan membawa kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat (falah).

 

Prinsip Dasar Asuransi Syariah

 

Asuransi diperbolehkan secara syar’i, jika tidak menyimpang dari prinsip dan aturan dalam syariat Islam. Prinsip dasar yang ada dalam asuransi syariah tidak jauh berbeda dengan prinsip dasar yang berlaku pada konsep ekonomika Islami secara komprehensif dan bersifat major. Hal ini disebabkan karena kajian asuransi syariah merupakan turunan (minor) dari konsep ekonomika Islami.[5] Dalam hal ini, prinsip dasar asuransi syariah ada sepuluh macam, yaitu: tauhid, keadilan, tolong-menolong, kerja sama, amanah, kerelaan, kebenaran, larangan riba, larangan judi, dan larangan gharar.[6]

  1. Tauhid (Unity)

Dalam melakukan aktivitas berasuransi ada semacam keyakinan dalam hati bahwa Allah SWT. selalu mengawasi seluruh gerak langkah kita dan selalu ada bersama kita. Sehingga pihak yang terlibat dalam asuransi akan selalu berhati-hati dalam berperilaku dan bertindak.

  1. Keadilan (Justice)

Keadilan dalam hal ini dipahami sebagai upaya dalam menempatkan hak dan kewajiban antara nasabah (anggota) dan perusahaan asuransi. Nasabah asuransi wajib untuk selalu membayar iuran (premi) dalam jumlah tertentu kepada perusahaan asuransi dan mempunyai hak untuk mendapatkan sejumlah santunan jika terjadi peristiwa kerugian. Sedangkan perusahaan asuransi mempunyai kewajiban untuk membayar klaim (dana santunan) kepada nasabah.

  1. Tolong-menolong (Ta’awun)

Seseorang yang masuk asuransi, sejak awal harus mempunyai niat dan motivasi untuk membantu dan meringankan beban rekannya yang pada suatu ketika mendapat musibah atau kerugian. Praktik tolong-menolong dalam asuransi adalah unsur utama pembentuk (DNA-Chromosom) bisnis asuransi. Tanpa adanya unsur ini atau hanya semata-mata untuk mengejar keuntungan bisnis belaka, berarti perusahaan asuransi tersebut sudah kehilangan karakter utamanya sebagai perusahaan asuransi.

  1. Kerja sama (Cooperation)

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari yang lain. Nilai kerja sama adalah suatu norma yang tidak dapat ditawar. Karena hanya dengan melakukan kerja sama antar sesama, manusia baru dapat merealisasikan kedudukannya sebagai makhluk sosial. Kerja sama dalam bisnis asuransi dapat berwujud dalam bentuk akad yang dijadikan acuan antara kedua belah pihak yang terlibat, yaitu antara anggota (nasabah) dan perusahaan asuransi.

  1. Amanah (Trustworthy/ al-Amanah)

Pihak yang terkait dalam aktivitas usaha asuransi, baik itu anggota (nasabah) asuransi maupun perusahaan asuransi harus sama-sama bertanggung jawab atas kepercayaan yang di berikan oleh lawan pihak. Nasabah tidak boleh mengada-adakan sesuatu yang tidak ada sehingga dapat merugikan peserta asuransi yang lain. Sedangkan untuk perusahaan asuransi, ia tidak boleh menyelewengkan premi dari nasabah dan juga tidak boleh semena-mena dalam mengambil keuntungan.

  1. Kerelaan (al-Ridha)

Dalam bisnis asuransi, kerelaan (al-ridha) diterapkan pada setiap anggota (nasabah) asuransi agar mempunyai motivasi dari awal untuk merelakan sejumlah dana (premi) yang disetorkan ke perusahaan asuransi, yang difungsikan sebagai dana sosial (tabarru’). Dana sosial tersebut memang betul-betul digunakan untuk tujuan membantu anggota (nasabah) asuransi yang lain jika mengalami bencana kerugian.

  1. Kebenaran

Prinsip kebenaran disini ada kaitannya dengan prinsip sebelumnya, yaitu amanah. Semua pihak yang terlibat dalam usaha asuransi, baik anggota (nasabah) asuransi maupun perusahaan asuransi, keduanya wajib untuk memberikan data atau informasi dengan sebenar-benarnya tanpa ada rekayasa atau manipulasi dan tanpa dibuat-buat.

  1. Larangan Riba

Dalam setiap transaksi, seorang muslim dilarang memperkaya diri dengan cara yang tidak dibenarkan. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT. dalam QS. An-Nisa’ [4]: 29

+++++

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.”

Dari firman Allah tersebut diatas, dapat dikatakan Islam menghalalkan perniagaan dan melarang riba. Terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam.

  1. Larangan Judi (Maisir)

Allah SWT. telah memberi penegasan terhadap keharaman melakukan aktivitas ekonomi yang mempunyai unsur maisir (judi), dalam firman-Nya QS. Al-Maidah [5]: 90

++++++

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (maminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberungan.”

Dapat digarisbawahi bahwa judi memang benar-benar tidak dibolehkan dalam Islam. Karena, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa judi akan menguntungkan satu pihak saja sedangkan pihak lain akan mengalami kerugian.

  1. Larangan Ketidakpastian (Gharar)

Ketidakpastian (gharar) dalam beberapa kasus sering disebut sebagai penipuan (al-khida’) yaitu tindakan yang di dalamnya diperkirakan tidak ada unsur kerelaan. Ketidakpastian juga sangat bertolak belakang dengan tujuan asuransi syariah yaitu memberikan ketenangan dan menghilangkan kegelisahan serta kecemasan.[7] Sejak awal nasabah asuransi syariah telah diberi tahu dari mana dana yang diterimanya berasal, bila ia meninggal atau mendapat musibah.

Dalam setiap kegiatan muamalah, termasuk asuransi, tata cara dan operasionalnya harus berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits. Prinsip-prinsip tersebut tidak boleh dilanggar, oleh karenanya salah satu ketentuan Al-Qur’an dan Hadits yang menjadi landasan setiap kegiatan yang bersifat muamalah harus menghilangkan unsur-unsur berikut, yaitu gharar, maisir, dan riba. Sebagai gantinya, Islam selalu menekankan setiap bentuk usaha dan investasi pada aspek keadilan, suka sama suka, dan kebersamaan dalam menghadapi setiap resiko.[8]

 

Operasional Asuransi Syariah

 

Seperti yang telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa asuransi syariah biasa dikenal dengan sebutan takaful. Istilah tersebut adalah yang paling sering digunakan atau paling populer digunakan sebagai nama lain dari asuransi syariah. Asuransi konvensional dinilai mengandung riba, judi, dan kezaliman dalam pelaksanaannya. Namun, lain halnya dengan asuransi syariah. Asuransi syariah diyakini berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dalam fikih mu’amalah yang menyangkut prinsip jaminan, syirkah, bagi hasil, dan ta’awun atau takaful (saling menanggung).[9] Dalam takaful (asuransi syariah), unsur riba, judi, dan kezaliman dihilangkan. Takaful dijalankan dengan dasar tolong-menolong dan saling menanggung. Artinya, semua peserta asuransi syariah takaful menjadi penjamin satu sama lainnya bila salah seorang peserta asuransi meninggal sehingga tampak bahwa yang lain menanggung, demikian pula sebaliknya.[10]

Dalam takaful unsur gharar dihilangkan. Karena, seperti yang telah disebutkan sebelumnya yaitu, sejak awal nasabah telah diberi tahu dari mana dana yang diterimanya berasal, bila ia meninggal atau mendapat musibah. Hal itu dimungkinkan sebab setiap pembayaran premi sejak awal telah dibagi menjadi 2 (dua). Pertama, masuk ke dalam rekening pemegang polis, dan kedua, dimasukkan ke rekening khusus peserta yang diniatkan tabarru’ (membantu) atau shodaqoh untuk membantu saudaranya yang lain. Jika ada peserta yang meninggal sebelum masa jatuh temponya habis, kekurangan uang pertanggungan akan diambil dari rekening khusus atau tabarru’.

Untuk lebih jelasnya, sebagai contoh, misalnya:[11]

Seorang peserta mengambil waktu pertanggungan 10 (sepuluh) tahun, dengan premi Rp 1 juta per tahun. Dari jumlah tersebut, 2% (Rp 20 ribu) dimasukkan ke rekening khusus (tabarru’) sehingga rekening peserta menjadi Rp 980 ribu setahun. Dalam 10 tahun terkumpul Rp 9,8 juta. Karena ia menitipkan uangnya pada perusahaan, peserta berhak mendapat keuntungan bagi hasil, misalnya 70:30 atau sesuai kesepakatan 70% untuk nasabah, sisanya untuk perusahaan takaful.

Apabila peserta tersebut meninggal pada tahun kelima masa angsuran misalnya, ia akan mendapat dana pertanggungan. Dana itu terdiri dari rekening peserta selama lima tahun (5 x Rp 980 ribu) ditambah dengan bagi hasil selama lima tahun, misalnya Rp 400 ribu, dan sisa premi yang belum dibayarkan 5 x Rp 1 juta = Rp 5 juta. Bagian 5 juta ini diambil oleh pihak perusahaan asuransi dari dana tabarru’.

Dalam takaful, unsur maisir (judi) juga dihilangkan. Pada saat reversing period atau masa dibolehkannya peserta mengambil uang yang telah dibayarkan (mengundurkan diri atau membatalkan kontrak) adalah sepanjang waktu pertanggungan. Kendati peserta baru membayar satu kali angsuran misalnya, ia berhak mendapatkan kembali uangnya jika ia mengundurkan diri, kecuali sebagian kecil yang dipotong untuk dana tabarru’.

Misalnya dalam kasus yang sama seperti diatas, namun peserta tersebut mengundurkan diri pada tahun kelima, maka ia mendapatkan kembali uang sebesar Rp 5,3 juta. Yang terdiri dari Rp 4,9 juta dari rekening peserta selama lima tahun dan Rp 400 ribu dari bagi hasil selama lima tahun.

Pendapatan perusahaan asuransi syariah diperoleh dari bagian keuntungan dana para peserta, yang dikembangkan dengan prinsip mudharabah (sistem bagi hasil). Perusahaan asuransi bisa dikatakan menjadi perantara antara nasabah asuransi (yang dapat diposisikan sebagai investor) dengan pengusaha (yang dapat diposisikan sebagai kreditor). Dari jasa perantaranya itulah perusahaan asuransi memperoleh upah atau imbalan. Keuntungan yang diperoleh dari pengembangan dana itu dibagi antara para peserta dan perusahaan asuransi sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Buku:

–          Ali, Hasan. Asuransi Dalam Perspektif Hukum Islam: Suatu Tinjauan Analisis Historis, Teoritis, & Praktis. Jakarta: Prenada Media, 2004.

–          Ali, Zainuddin. Hukum Asuransi Syariah. Jakarta: Sinar Grafika, 2008.

–          Firdaus N.H, Muhammad. et al., Sistem Operasional Asuransi Syariah. Jakarta: Renaisan, 2005.

–          Mannar, Muhammad Abdul. Teori dan Praktek Ekonomi Islam: Dasar-dasar Ekonomi Islam. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1997.

–          Muthahhari, Murtadha. Pandangan Islam Tentang Asuransi & Riba. Irwan Kurniawan. Bandung: Pustaka Hidayah, 1995.

–          Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta atas Kerja sama dengan Bank Indonesia. Ekonomi Islam. Yogyakarta: Fajar Media Press, 2012.

 

Website:

–          Setyawan, Budi. Asuransi Dalam Perspektif Islam (Syariah), http://rangselbudi.wordpress.com/2011/10/26/asuransi-dilihat-dari-perspektif-hukum-islam-syariah/ (akses tanggal 28 Oktober 2013).


[1] Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta atas Kerja sama dengan Bank Indonesia, Ekonomi Islam (Yogyakarta: Fajar Media Press, 2012), hal. 13. [buku ekis Pak Qoyum]

[2] Ibid., hal. 4.

[3] Muhammad Abdul Mannar, Teori dan Praktek Ekonomi Islam: Dasar-dasar Ekonomi Islam (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1997), hal. 302.

[4] Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (Life and General): Konsep dan Sistem Operasional (Jakarta: Gema Insani, 2004), hal. 26 seperti dikutip oleh Budi Setyawan, Asuransi Dalam Perspektif Islam (Syariah), http://rangselbudi.wordpress.com/2011/10/26/asuransi-dilihat-dari-perspektif-hukum-islam-syariah/ (diakses pada tanggal 28 Oktober 2013, pukul 18.09).

[5] Hasan Ali, Asuransi Dalam Perspektif Hukum Islam: Suatu Tinjauan Analisis Historis, Teoritis, & Praktis (Jakarta: Prenada Media, 2004), hal. 125.

[6] Ibid.

[7] Murtadha Muthahhari, Pandangan Islam Tentang Asuransi & Riba, Irwan Kurniawan (Bandung: Pustaka Hidayah, 1995), hal. 278.

[8] Muhammad Firdaus N.H, et al., Sistem Operasional Asuransi Syariah (Jakarta: Renaisan, 2005), hal. 21.

[9] Zainuddin Ali, Hukum Asuransi Syariah (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal. 88.

[10] Ibid.

[11] Ibid., hal. 89.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s